International Slavery Museum Saksi Bisu Perbudakan

International Slavery Museum | Saksi Bisu Perbudakan

Pada 1787, Quaker of Portsmouth membikin kampanye anti-perbudakan mereka sah dengan menyusun The Society for Effecting the Abolition of the Slave Trade, bergabung dengan para abolisionis terkemuka seperti William Wilberforce. Seperti terorganisirnya mereka dalam sistem aktivisme, seperti pembangkangan sipil, penelitian, dan pengumpulan bukti, sehingga mereka menjadi cetak biru bagi banyak organisasi pelobi di masa depan.

International Slavery Museum Saksi Bisu Perbudakan

Salah satu perbuatan mereka yang paling tepat sasaran yaitu menugaskan gambaran kapal budak Liverpool the Brookes, dinamai berdasarkan pemiliknya, Joseph Brookes, dan mempresentasikannya terhadap bangsa dalam format poster, timbul di surat informasi, pamflet, buku, dan kedai kopi. Kengerian yang dijelaskan dengan pesat memastikan gambaran hal yang demikian sebagai komponen yang sungguh-sungguh berdampak dari kampanye anti-perbudakan kaum abolisionis.

Baca artikel lainnya: Madame Tussauds: Museum Lilin Yang Tersebar Di Banyak Negara!

Menjelang dekade 1800an, Jean Jacques yang adalah buah hati dari Heidel, merubah Habitation Haydel dari yang mulanya dipenuhi tanaman indigofera menjadi perkebunan tebu yang dilengkapi pabrik gula. Perkebunan itu tentu tidak sanggup diolah sendiri oleh Jean dan keluarganya. Mereka membeli budak asal Afrika yang dikala itu marak diperdagangkan. Jumlah budak yang berprofesi di perkebunan itu menempuh 350 orang dan jumlah itu terbesar dibandingi perkebunan lainnya di AS pada dikala itu.

Rekomendasi Museum Di Liverpool

Selama lebih dari 2.000 tahun member sbobet digital di bermacam-macam belahan dunia sudah memaksa sesama manusia menjadi budak. Antara sekitar 1500 dan 1900, orang Eropa secara paksa mengusir jutaan orang dari semua Afrika Barat dan Afrika Tengah Barat dan mengirim mereka melintasi Atlantik dalam situasi yang betul-betul kejam.

Merujuk pada orang Afrika yang diperbudak cuma sebagai ‘budak’ melucuti identitas mereka. Semisal, mereka yakni petani, pedagang, pendeta, tentara, trampil emas, dan musisi. Mereka yakni suami dan istri, ayah dan ibu, putra dan putri. Mereka dapat jadi Yoruba, Igbo, Akan atau Kongolese.

Para budak Eropa membubarkan mereka di semua Amerika untuk menjalani kehidupan yang terdegradasi dan brutal, tanpa memikirkan kehidupan pribadi mereka. Jutaan orang tewas dalam cara kerjanya. Alhasil, orang keturunan Afrika tersebar di semua Amerika dan Eropa Barat. Ini disebut Diaspora Afrika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *